ANALISA KARAKTERISTIK BETON NON STRUKTURAL MENGGUNAKAN CANGKANG SAWIT SEBAGAI AGREGAT KASAR

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Muhammad Shalahuddin
Azhari Azhari

Abstract

ABSTRACT

on-structural concrete consists of sand, coarse aggregate (palm shell / crushed stone), portland cement adhesive materials and water. Palm shells are treated as coarse aggregate in the concrete mix non-structural as palm shells loud enough to rupture the field are pretty much expected to be able to replace the coarse aggregate properties. Productivity palm shells are quite large in Riau Province with the extent of oil palm plantations.
Primary data collection that consists of data analysis grain palm shells, sand grains of the data analysis, the data characteristics and non-structural concrete compressive strength. The materials used are cement Padang kind of PCC, sand from the lake bingkuang Kampar and palm shells of PTPN V Raja Beach Kampar. Samples of concrete for compressive strength test 48 unit cube size of 15 cm x 15 cm x 15 cm.
Grain fineness modulus value of palm shell was 6.80, the apparent specific gravity of 1.14 g / cm3, density SSD 1.12 gr / cm3 and a bulk density of 0.96 g / cm3 and palm shell solid volume weight 0.588 kg / liter. Conditions palm shells are used fairly clean with mud levels only 0.15%. Characteristics of concrete mix fas shows that at 0.40, the optimum value of compressive strength is 4,721 MPa which occurred in the percentage of palm shells 60, 25%, on fas 0.45, the highest optimum compressive strength value was 5.213 MPa which occurred in the percentage of palm shell 51 , 83% at 0.50 fas, optimum compressive strength value was 4.507 MPa which occurred in the percentage of 50% palm shells, the fas 0.55, optimum compressive strength value was 4.799 MPa which occurred in the percentage of 54.167% palm shells and there ± 80 % test sample value of its slump entering the boundaries slump concrete mix.

Keywords: palm Shells, sand, concrete non-structural

ABSTRAK


Beton non struktural terdiri dari pasir, agregat kasar (cangkang sawit / batu pecah), bahan perekat semen portland dan air. Cangkang sawit diperlakukan sebagai agregat kasar pada campuran beton non-struktural karena cangkang sawit cukup keras dengan bidang pecah yang cukup banyak diperkirakan akan dapat menggantikan sifat agregat kasar. Produktifitas cangkang sawit yang cukup besar di Provinsi Riau dengan luasnya lahan perkebunan kelapa sawit.
Pengumpulan data primer yang terdiri dari data analisa butir cangkang sawit, data analisa butir pasir, data karakteristik dan kuat tekan beton non struktural. Bahan yang dipergunakan adalah semen Padang jenis PCC, pasir dari danau bingkuang Kabupaten Kampar dan cangkang sawit dari PTPN V Pantai Raja Kabupaten Kampar. Sampel beton untuk uji kuat tekan 48 unit berbentuk kubus ukuran 15 cm x 15 cm x 15 cm.
Nilai modulus kehalusan butir cangkang sawit adalah 6.80, berat jenis semu 1,14 gr/cm3, berat jenis SSD 1,12 gr/cm3 dan berat jenis bulk 0,96 gr/cm3 dan Berat volume padat cangkang sawit 0,588 kg/liter. Kondisi cangkang sawit yang dipergunakan cukup bersih dengan kadar lumpur hanya 0,15 %. Karakteristik campuran beton memperlihatkan bahwa pada fas 0,40, nilai kuat tekan optimum adalah 4,721 Mpa yang terjadi pada persentase cangkang sawit 60, 25 %, pada fas 0,45, nilai kuat tekan optimum tertinggi adalah 5,213 Mpa yang terjadi pada persentase cangkang sawit 51,83 % pada fas 0,50, nilai kuat tekan optimum adalah 4,507 Mpa yang terjadi pada persentase cangkang sawit 50 %, pada fas 0,55, nilai kuat tekan optimum adalah 4,799 Mpa yang terjadi pada persentase cangkang sawit 54,167 % dan ada ± 80 % sampel uji yang nilai slump-nya memasuki batasan slump campuran beton.


Kata kunci : Cangkang sawit, Pasir, Beton non-struktural

##plugins.themes.academic_pro.article.details##